Rabu, 24 Oktober 2012

POKOK KEMULIAAN MANUSIA


Wasiat bittaqwa

Kita sadari bersama bahwa kita selaku hamba Allah (manusia) diciptakan Allah sebagai makhluk yang sangat mulia dibanding makhluk-makhluk lain, tentunya karena mempunyai beberapa kelebihan/keunggulan. Keunggulan tersebut akan bisa bertahan selagi manusia memperhatikan dan melaksanakan dalam praktek kehidupan sehari-hari. Namun jika tidak, maka yang muncul justru manusia itu akan menjadi makhluk Allah yang lebih rendah/hina dibanding yang lain. Untuk itu perlu kita perhatikan sebuah hadits Nabi yang menggambarkan tentang kedudukan manusia akan berharga dihadapan Allah dan sesamanya manakala mereka melaksanakan empat pilar/poin yang diumpamakan Nabi bagaikan intan yang sangat mahal harganya, yang terdapat pada jizim/jasad manusia, yaitu :
اَرْبَعَة ُجَوَاهِرَ فِىْ جِسْمِ بَنِىْ أَدَمَ يُزِيْلُهَا اَرْبَعَةُ أَشْياَءَ : أَمَّا اْلجَوَاهِرُ فَاْلعَقْلُ وَالدِّيْنُ وَاْلحَيَاءُ وَاْلعَمَلُ الصَّالِحُ. فَاْلغَضَبُ يُزِيْلُ اْلعَقْلَ وَاْلحَسَدُ يُزِيْلُ الدِّيْنَ وَالطَّمَعُ يُزِيْلُ اْلحَيَاءَ وَاْلغِيْبَةُ يُزِيْلُ اْلعَمَلَ الصَّالِحَ. ( نصائح العباد : ٢٥)
معاشر المسلمين رحمكم الله .....
1.    Akal, dengan akal manusia bisa maju. Dengan akal manusia bisa membedakan mana yang baik dan buruk. Dengan akal pula manusia bisa menembus angkasa luar. Serta bisa menempatkan posisi mereka sebagaiخليفة فى الأرض  (pelestari) nilai-nilai agama dimuka bumi ini. Sehingga dengan pentingnya posisi akal maka syari’at melarang terhadap sesuatu perbuatan/persoalan yang akan merusak tatanan akal itu sendiri, seperti minuman keras, mabuk dll. Akal juga merupakan penuntun menuju kebaikan, dimana seseorang menyadari betapa pentingnya nilai kebaikan untuk menuju kebahagiaan akhirat. Dimana kebahagiaan akhirat diperoleh semata-mata karena memperbanyak amal sholeh.
عِزُّ الدُّنْيَا بِكَثْرَةِ اْلأَمْوَالِ وَعِزُّ اْلأَخِرَةِ بِكَثْرَةِ اْلأَعْمَالِ
 “Kemuliaan dunia dengan banyak harta, kemuliaan akhirat dengan banyak amal sholeh”

2.     الدين(Agama) manusia bisa menjadi berharga dihadapan Allah manakala mempunyai kekuatan dan kesadaran untuk melaksanakan nilai-nilai syari’at agama dengan baik. Sebab, agama merupakan tonggak pencerminan kehidupan akhirat. Jika manusia di dunia selalu beramal dengan melaksanakan syari’at agama islam dengan baik dan kokoh, maka sudah barang tentu kelak dikemudian hari mereka akan mendapat balasan dari Allah  berupa kenikmatan yang sangat besar harganya. Dan selalu mendapatkan hidayah Allah. Ini salah satu manusia yang mendapatkan keuntungan dari Allah sebagaimana sabda Nabi : طُوْبَى لِمَنْ هُدِيَ لِلإِسْلاَمِ
 معاشر المسلمين رحمكم الله … agama merupakan penyejuk dalam kehidupan manusia, ini artinya dalam kehidupan di dunia manusia akan merasa tentram, tenang bahkan merasa tercukupi lahir batin, serta tidak akan tersesat manakala kita selalu berpegang dengan tatanan nilai-nilai agama baik berupa Al Qur’an, Al Hadits atau sumber agama lain, sebagaimana disabdakan Nabi :
تَرَكْتُ فِيْكُمْ اَمْرَيْنِ لَنْ تَضِلُّوْا مَا إِنْ تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا كِتاَبُ اللهِ وَسُنَّةُ رَسُوْلِ اللهِ
Artinya : “Aku tinggalkan untukmu dua perkara, tidak sekali-kali kamu tersesat selama kamu berpegangan/berpedoman kepada keduanya, yaitu Al Qur’an dan Al Hadits.”

3.     الحياء (Sifat malu) ini artinya, kita selaku umat manusia harus mempunyai sifat malu baik dihadapan sesamanya, apalagi Allah jika kita melaksanakan perbuatan maksiat/kedholiman yang mengarah pada kejelekan yang akhirnya berujung pada kenistaan yakni neraka. Halini sebagaimana sabada Nabi :
وَإِنَّ اْلكَذِبَ يَهْدِىْ إِلَى اْلفُجُوْرِ وَإِنَّ اْلفُجُوْرَ يَهْدِىْ إِلَى النَّارِ. وَإِنَّ الرَّجُلَ لَيَكْذِبُ حَتَّى يُكْتَبُ عِنْدَ اللهِ كَاذِباً
Untuk itu marilah kita sadari bersama, hal seperti ini, jangan sampai justru kita merasa bangga, senang apalagi menjadi pemerkasa kejelekan perbuatan yang mengarah berdosa maksiat terhadap Allah SWT. Seperti menggunjing, bohong dan sebagainya. Jika teryata kita justru mengomporinya, mka selain mendapat dosa yang ditimbulkan dirinya juga menanggung beban dosa orang lain yang mengikutinya.
مَنْ سَنَّ سُنَّةً حَسَنَةً فَلَهُ اَجْرُهَا وَاَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا إِلَى يَوْمِ اْلقِيَامَةِ . وَمَنْ سَنَّ سُنَّةً سَيِّئَةً فَعَلَيْهِ وِزْرُهَا وَوِزْرُمَنْ عَمِلَ بِهَا إِلَى يَوْمِ اْلقِيَامَةِ 

Artinya : “Barang siapa yang mengadakan sunnah/jalan yang baik, maka baginya pahala atas jlan yang ditempuhnya ditambah pahala orang-orang yang mengerjakannya sampai hari kiamat. Dan barang siapa mengadakan sunnah/jalan yang buruk, maka atasnya dosa karena jalan buruk yang ditempuhnya ditambah dosa orang-orang yang mengerjakannya sampai hari kiamat.”

4.    Amal Sholeh, jiwa seseorang akan bisa digambarkan sebagai intan yang sangat berharga. Maka tidak ada jalan lain kecuali kita harus berusaha keras untuk melakukan perbuatan amal sholeh. Sebab, bagaimanapun juga dan sebesar apapun amal perbuatan manusia di dunia akan mendapat imbalan dari Allah SWT. Serta melihat apa yang mereka kerjakan di dunia.
Dan semoga kita kelak dihari pembalasan amal menerima buka catatan amal dari sisi kanan. Sehingga dikategorikan umat manusia yang beruntung sebagaimana firman Allah :
فَأَمَّا مَنْ أُوْتِيَ كِتاَبَهُ بِيَمِيْنِهِ . فَسَوْفَ يُحَاسَبُ حِسَاباً يَسِيْرًا . وَيَنْقَلِبُ إِلَى أَهْلِهِ مَسْرُوْرًا .
“Maka adapun orang yang catatannya diberikan dari sebelah kanannya, maka dia akan diperiksa dengan pemeriksaan yang mudah, dan dia akan kembali kepada keluarganya (yang sama-sama beriman) dengan gembira”.


جعلنا الله وإياكم من الفائزين الأمنين وادخلنا وإياكم فى زمرة الموحدين . اعوذ بالله من الشيطان الرجيم . من عمل صالحا فلنفسه ومن أساء فعليها . وما ربك بظلام للعبيد . وقل رب اغفر وارحم وانت خيرالرحمين.

MENGUATKAN IMAN DENGAN DZIKIR


Wasiat bittaqwa

Pada suasana semacam ini, dimana kalau kita cermati, dilihat dari sisi agama, kita selaku umat islam harus prihatin, waspada atas munculnya berbagai kejahatan-kejahatan alam yang mungkin kalau kita ukur dengan fikir secara rasional tidak terjangkau, adanya bencana sunami yang sangat dahsyat di Jepang sehingga memporak porandakan alam, tanah longsor diberbagai daerah, banjir diberbagai tempat ini semua merupakan pertanda bagi kita semua selaku umat islam harus kembali pada tatanan agama yang baik, haliyah kesehari-harian hendaknya mencerminkan nilai-nilai agama, berpegang teguh pada syari’at serta selalu memperbanyak dzikir, ingat pada Allah dalam segala aspek kegiatannya. Sebab dengan adanya kita selalu berdzikir, ingat pada Allah, maka Allah juga akan selalu ingat pada kita.
فَاذْكُرُوْنِىْ أَذْكُرْكُمْ وَاْشكُرُوْا لِىْ وَلاَ تَكْفُرُوْن
معاشرالمسلمين رحمكم الله....
Dzikir secara sederhana dapat diartikan mengingat sesuatu tentu saja yang dimaksud disini adalah mengingat Allah SWT secara umum, ada tiga cara Dzikir untuk mengingat Allah :
1.      Dengan fikir
2.      Dengan amal atau gerak
3.      Dengan lisan
Dengan fikir yaitu : dengan cara melihat ayat-ayat Allah SWT, menganalisa, meresapi ayat-ayat Allah, baik dengan melihat ciptaan Allah berupa alam dan segala isinya. Melihat diri sendiri, sebagaimana firman Allah dalam surat Al Hijr : 77.
إِنَّ فِىْ ذَلِكَ لأَيَةً لِلْمُؤْمِنِيْنَ (الحجرات : ٧٧)
Artinya : “Seungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi orang-orang yang beriman.”
وَفِى اْلأَرْضِ أَيَاتٌ لِلْمُؤْقِنِيْنَ وَفِىْ أَنْفُسِكُمْ أَفَلاَ تُبْصِرُوْنَ
Artinya : “Dan di bumi itu terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi orang-orang yang yakin dan juga pada dirimu sendiri, maka apakah kamu tiada memperhatikan.”
معاشرالمسلمين رحمكم الله....
Dzikir juga dapat dilakukan dengan amal perbuatan, seperti halnya kita melakukan sholat lima waktu. Dimana sholat merupakan kewajiban umat islam yang tidak boleh kita tinggalkan selagihayat masih dikandung badan. Sholat juga merupakan sarana atau media komunikasi antara Allah dengan hambanya. Serta sarana untuk mengingat Allah.
إِنَّنِيْ أَناَ اللهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اَناَ فَاعْبُدُوْنِىْ وَاَقِمِ الصَّلاَةَ لِذِكْرِيْ
“Sesungguhnya aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan yang hak selain aku. Maka sembahlah aku dan dirikanlah sholat untuk mengingatku.”
Dzikir juga bisa dilakukan dengan dengan lisan, yaitu dengan cara mengucapkan lafadz/kalimat toyyibat. Apalagi kalimat tersebut selalu diucapkan siang malam. Sehingga dengan mengucapkan kalimat toyyibat tersebut, Allah akan selalu melindungi, mencintainya sehingga kita akan menjadi hamba Allah yang selalu mendapatkan ridho dan hidayah Allah, sehingga kelak kemudian hari jika kita dipanggil Allah dalam keadaan “Husnul Khotimah”.
قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ, يَقُوْلُ اللهُ : اَناَ مَعَ عَبْدِىْ مَا ذَكَرَنِىْ وَتَحَرَّكَتْ شَفَتَاهُ.  
“Rasulullah SAW bersabda : Saya (Allah) beserta/ingat terhadap hambaku, selagi hambaku selalu ingat padaKu dan selalu menggerakkan/mengucapkan dengan lisan/bibir mengucapkan dzikir/kalimat toyyibat.
Ketiga metode/cara diatas berdampak sama, meski dengan kadar yang berbeda. Ada yang merasa lebih dekat dengan Allah ketika sedang sholat. Ada yang justru ketika berdzikir dengan ucapan tertentu. Ada juga yang dapat merasakan kekuasaan Allah ketika melihat ciptaanNya. Ketika sedang berada di atas gunung, ditengah lautan, mengamati ciptaan Allah yang sangat beragam.
Ketiga metode ini meski sama-sama diperintahkan oleh Allah, namun tidak bisa saling mengganti. Sebagai contoh, orang yang sedang asyik berdzikir dengan lisannya tidak boleh meninggalkan sholat dengan alas an sama-sama mengingat Allah, dan saya lebih nikmat saat berdzikir dari pada sholat. Orang yang dapat merasakan kebesaran Allah dengan melihat fenomena alam tidak boleh meninggalkan sholat.
معاشرالمسلمين رحمكم الله....
Pada akhirnya ketiga metode ini dapat bersatu dalam diri seseorang. Ketika itu tercapai, maka tahapan keimanan seseorang pun akan meningkat. Dia bukan lagi berada ditingkatan mukmin saja, akan tetapi lebih sempurna. Dia menjadi seorang muslim, mukmin, muhsin dan muttaqin. Orang yang demikianlah dapat dikategorikan “Insan Kamil”. Dia akan menjadi orang yang berguna bagi dirinya, keluarganya, masyarakat sekeliling, juga untuk umat manusia. Bahkan berguna bagi alam sekitar.

جعلنا الله وإياكم من الفائزين الأمنين وادخلنا وإياكم فى زمرة الموحدين . اعوذ بالله من الشيطان الرجيم . من عمل صالحا فلنفسه ومن أساء فعليها . وما ربك بظلام للعبيد . وقل رب اغفر وارحم وانت خيرالرحمين.

KESEIMBANGAN DALAM HIDUP


Wasiat Bittaqwa
Kita maklumi bersama bahwa segala sesuatu persoalan pasti ada tujuannya. Seseorang kuliah di perguruan tinggi Fakultas kedokteran tentunya mempunyai tujuan, yaitu setelah selesai kuliah menjadi sarjana kedokteran. Seseorang belajar mendalami ilmu agama di lembaga pendidikan pesantren juga pasti ada tujuannya. Yakni, ingin menjadi orang yang berilmu dibidang agama biar kelak segala perbuatannya berdasarkan teori keagamaan. Begitu juga, kita hidup di duniapun demikian, biar hidup bahagia tidak hanya di dunia saja tetapi akhirat pun perlu kebahagiaan pula. Sehingga dengan pentingnya keseimbangan kehidupan dunia dan akhirat, maka pantaslah Allah menggambarkan dalam firman-Nya.
وَاْبتَغِ فِيْمَا أَتَاكَ اللهُ الدَّارَ اْلأَخِرَةَ وَلاَ تَنْسَ نَصِيْبَكَ مِنَ الدُّنْيَا وَاَحْسِنْ كَمَا اَحْسَنَ اللهُ اِلَيْكَ وَلاَ تَبْغِ اْلفَسَادَ فِى اْلأَرْضِ إِنَّ اللهَ لاَ يُحِبُّ اْلمُفْسِدِيْنَ
Artinya : “Dan carilah pada apa yang Telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah Telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.” (QS. Al Qoshosh : 77)
مَعَاشِرَ اْلمُسْلِمِيْنَ رَحِمَكُمُ اللهُ
Dengan dasar Al Qur’an dan Hadits diatas, kita selaku umat manusia hendaknya bisa mengatur kehidupan. Sehingga bisa tercapai kedua-duanya. Walaupun tidak bisa seratus persen. Jangan sampai kita hidup di dunia hanya memperjuangkan nilai-nilai keduniaan saja tanpa melihat esensi ukhrowiyah. Bekerja tanpa capek, siang malam hanya sekedar merintis keberhasilan status diri dihadapan manusia biar dikatakan orang yang sukses ekonomi, jabatan, kemewahan dan yang lain yang bersifat keduniaan. Sementara untuk mencapai status tersebut tidak berpedoman pada nilai-nilai syari’at atau agama. Bahkan melaksanakan konsep-konsep yang bertentangan dengan nilai agama, meninggalkan kewajiban dirinya sebagai hamba Allah. Sebagaimana meninggalkan sholat lima waktu, tidak mau mengeluarkan zakat padahal mereka sudah terkena kewajiban zakat. Selalu mencari kemewahan kehidupan dunia dengan tidak ada rasa belas kasihan terhadap orang lain yang kecil. Kalau sudah orientasinya demikian, maka rusaklah agama atau kewibawaan agama berkurang.
Orang semacam inilah yang dikatakan Rasul, orang yang hatinya tertutup/keras, rusak yang akhirnya akan menyesal dan rugi jika berhadapan dengan Allah kelak di hari Qiamat. Sebagaimana firman Allah :
وَ مِنَ النَّاسِ مَنْ يَقُوْلُ رَبَّنَا أَتِنَا فِى الدُّنْيَا وَمَا لَهُ فِى اْلأَخِرَةِ مِنْ خَلاَقٍ
Artinya : “Maka di antara manusia ada orang yang berdoa: "Ya Tuhan kami, berilah kami (kebaikan) di dunia", dan tiadalah baginya bagian (yang menyenangkan) di akhirat.” (QS. Al Baqoroh : 200)
مَعَاشِرَ اْلمُسْلِمِيْنَ رَحِمَكُمُ اللهُ
Disamping itu juga kita semua tidak dibenarkan oleh agama manakala kehidupan kita didunia hanya memikirkan akhirat belaka. Kesehariannya selalu ibadah kepada Allah SWT dengan wirid-wirid atau yang lainnya yang bisa melupakan usaha mencari rizqi demi kepentingan keluarga, anak istri. Padahal kita semua harus menyadari bahwa kedua-duanya harus diberi nafkah, kesejahteraan yang bersifat materi. Sehingga mereka hidup layak sebagaiman mestinya. Jangan sampai kita terkena ucapan sayyidina Umar RA tatkala melihat seorang rojul sedang berdiri di Mihrab memohon pada Allah, meminta sesuatu pada-Nya tanpa ikhtiyar atau usaha untuk mewujudkan permintaannya.
إِنَّ السَّمَاءَ لاَ تُمْطِرُ ذَهَبًا وَلاَ فِضَّةً
مَعَاشِرَ الْمُسْلِمِيْنَ رَحِمَكُمُ اللهُ
Dengan uraian diatas, maka kita memohon kepada Allah semoga dalam pelaksanaan kehidupan kita sehari-hari selalu melaksakan kehidupan yang seimbang antara duniawiyah dan ukhrowiyah. Sebagaiman kita ketahui kehidupan duniapun akan menjadi wasilah atau perantara nilai-nilai agama.
اَلدُّنْيَا مَزْرَعَةُ اْلأَخِرَةِ. اَلدُّنْيَا بَلاَّغٌ إِلَى اْللآخِرَةِ
Begitupula kehidupan akhirat merupakan kehidupan yang haqiqi (utama) untuk kebahagiaan kita semua kelak, tatkala menghadapi Allah dihari akhir.

جَعَلَناَ اللهُ وَإِياَّكُمْ مِنَ اْلفَائِزِيْنَ اْلأَمِنِيْنَ وَاَدْخَلَنَا وَإِياَّكُمْ فِىْ زُمْرَةِ اْلمُوَحِّدِيْنَ . اَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ . مَنْ عَمِلَ صَالِحًا فَلِنَفْسِهِ وَمَنْ أَسَاءَ فَعَلَيْهَا . وَماَ رَبُّكَ بِظَلاَّمٍ لِلْعَبِيْدِ . وَقُلْ رَبِّ اْغفِرْ وَاْرحَمْ وَاَنْتَ خَيْرُالرَّاحِمِيْنَ.

KEUTAMAAN BULAN RAMADHAN


Wasiat bittaqwa
Sekarang kita berada di bulan suci Ramadlan, bulan yang penuh rahmat, hidayah, ampunan, pembebasan diri dari siksa neraka. Untuk itu, marilah kita gunakan waktu bulan Ramadlan ini dengan senantiasa meningkatkan amaliah-amaliah ibadah untuk menuju kebahagiaan yang hakiki kelak di yaumul qiyamah/alam barzah. Bulan yang penuh hikmah ini, belum tentu kita tahun depan bisa bertemu kembali. Menghirup udara di bulan tersebut. Ini semuanya adalah kita pasrahkan kepada yang Maha kuasa yaitu Allah. Kita hamba Allah tidak bisa memastika atau menentukan.
اَناَ اُرِيْدُ اَنْتَ تُرِيْدُ وَاللهُ يَفْعَلُ مَا يُرِيْدُ
Pada kesempatan ini, yang perlu adalah kita mawas diri/introspeksi diri kita sendiri. Sudahkah selama kita melaksanakan ibadah puasa sesuai dengan apa yang dicanangkan oleh agama, seperti halnya persoalan yang ada dalam pribadi seseorang. Sejauh mana kita bisa menahan gejolak emosional, sifat ghibah menghardik dan sebagainya. Mampukan kita mengatasi hal tersebut secara maksimal..? sudahkah semua pelaksanaan kegiatan fisik kita dioptimalkan untuk menuju tatanan ibadah..? seperti mata, berapa persenkah mata kita digunakan untuk membaca ayat-ayat Allah dalam kehidupan selama kehadiran bulan ramadlan..? berapa Juzkan Al Qur’an yang sudah kita baca..?. Telinga, mampukah telinga kita ketika mendengarkan sesuatu yang tidak menimbulkan kemaksiatan selama kedatangan bulan suci ini..? sudahkah hari kita, siang malam selalu ingat kepada Allah baik melalui dzikir, munajat atau amalan-amalan untuk menuju pengabdian kita kepada Yang Maha Kuasa..? kalau kita jawabannya belum 100% maka pada kesempatan yang baik inilah kita ada peluang untuk memohon kepada Allah agar senantiasa diberi kekuatan untuk merubahnya menuju kegiatan-kegiatan yang sesuai dengan tuntunan syari’at. Dan juga pada bulan ramadlan ini kita berkesempatan untuk memperbaiki diri, bertobat meskipun dapat dilakukan kapan saja. Namun terasa lebih terbuka dan konsentrasi manakala ada pada bulan yang penuh berkah ini. Untuk itu marilah kita senantiasa beribadah dengan ikhlas, betul-betul mengharap ridho Allah sehingga ibadah puasa kita tidak sia-sia bahkan mendapat pahala dari Allah yang berlipat ganda.
                 ( PD II/82 )     لَوْ يَعْلَمُ مَا فِى هَذَاالشَّهْرِ مِنَ اْلخَيْرَاتِ لَتَمَنَّتْ أُمَّتِيْ اَنْ يَكُوْنَ رَمَضَانَ السَّنَةَ كُلَّهَا     
Artinya : “Andai sekalian manusia mengetahui bulan ramadlan itu dilipat gandakannya pahala, betul-betul umatku mengharap mudah-mudahan setahun itu menjadi bulan ramadlan semua.”
شَهْرٌ يُزَادُ فِيْهِ رِزْقُ اْلمُؤْمِنِ وَهُوَ شَهْرٌ أَوَّلُهُ رَحْمَةٌ وَاَوْسَطُهُ مَغْفِرَةٌ وَأَخِرُهُ عِتْقٌ مِنَ النَّارِ  (تنبيه الغافلين : ١١٨)
Artinya : “Bulan Ramadlan adalah bulan dimana Allah menambahkan rizqi pada kita semua selaku orang muslim. Sehingga niscaya Allah ketika waktu yang sangat berharga ini digunakan untuk beribadahsemata-mata, Allah akan memberikan kecukupan dalam kehidupan kita semua.”
Apalagi nanti ketika kita memasuki 10 hari terakhir yang termasuk dianjurkan Rasul untuk memperbanyak ibadah.
Sebagaimana sabda Rasul :
عَنْ عَائِشَةَ رَضِىَ اللهُ عَنْهَا قَالَتْ : كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا دَخَلَ اْلعَشْرَ أَحْياَ اللَّيْلَ وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ وَشَذَّ اْلمِئْزَرَ
(PD II/97)
Artinya : “Dari ‘Aisyah RA. berkata, Nabi Muhammad SAW tiap-tiap malam likuran (sepertiga yang terakhir) tekun beribadah, dan membangunkan keluarganya untuk diajak beribadah bersama.”
Apalagi pada tanggal-tanggal tersebut kita menghendaki untuk bisa mendapatkan Lailatul Qodar (ليلة القدر)
فَقَدْ سُئِلَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ عَلاَماَتِ لَيْلَةِ اْلقَدَرِ, فَقَالَ : هِيَ لَيْلَةٌ بَلْجَةٌ أَىْ مُشْرِفَةٌ نَيِّرَةٌ لاَ حَارَّةَ وَلاَ بَارِدَةَ وَلاَ سَحَابَ فِيْهَا وَلاَ مَطَرَ وَلاَ رِيْحَ وَلاَ يُرْمَى فِيْهاَ بِنَجْمٍ وَلاَ تُطْلُعُ الشَّمْسُ صَبِيْحَتَهَا مُشْعِشَةً.   ( PD II/96 )          
Artinya : “Rasulullah SAW pernah ditanya tentang tanda-tanda lailatul qodar. Beliau bersabda : malam lailatul qodar yaitu malam yang terang dan cemerlang, hawanya tidak panas dan tidak dingin, tidak ada awan dan tidak ada hujan, tidak ada angin dan tidak ada bintang yang dilempar, dan paginya, keluarnya matahari terang tidak tersirat.”
وَعَنْ عائشةَ قَالَتْ : يَا رَسُوْلَ اللهِ إِذَا وَافِيْتُ لَيْلَةَ اْلقَدَرِ فِبِمَ أَدْعُوْا ؟ قَالَ : قُوْلِيْ, اَللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ اْلعَفْوَ فَاعْفُ عَنَّي.
       (PD II/97)
Artinya : “Siti Aisyah berkata pada Nabi SAW : Wahai Rasulallah, bila saya berada dimalam Lailatu Qodar apa ada do’a yang harus saya baca..?. Nabi bersabda : yaitu membaca : Wahai Allah, sesungguhnya engkau adalah Maha Pemaaf dan senang akan kemaafan, maka maafkanlah aku.”
Disamping kita memperbanyak amal ibadah kita, tapi jangan lupa kita juga harus bisa menjauhkan diri dari hal-hal yang dapat menghilangkan pahala puasa kita.
خَمْسَةُ أَشْياَءَ تُحْبِطُ الصَّوْمَ : اْلكَذِبُ وَاْلغِيْبَةُ وَالنَّمِيْمَةُ وَاْليَمِيْنُ اْلغَمُوْسُ وَالنَّظْرُ بِشَهْوَةٍ
Lima perkara yang bisa menghilangkan pahala puasa :
1.    Berbohong
2.    Mengumpat/Menggunjung
3.    Adu Domba/Memfitnah
4.    Sumpah Palsu
5.    Melihat Perempuan Lain dengan syahwat
Hadirin Rahiakumullah…
Perlu kita ketahui, bahwasanya ibadah puasa itu memiliki tiga tingkatan/drajat. Diantaranya :
1.            صوم العوام
Puasanya orang ‘awam, tingkatan puasa ini hanya sebatas meninggalkan makan dan minum saja, dari fajar sampai ghurub (terbenamnya matahari). Namun, anggota tubuh masih belum bisa melepaskan diri dari yang namanya kemaksiatan. Telinga masih saja mendengarkan kemaksiatan, lidah masih tetap melakukan kebohongan, menggunjing, memfitnah dan sebagainya. 
2.            صوم الخواص
Pada tingkatan puasa ini, selain menahan rasa lapar dan dahaga, anggota tubuh juga mampu meninggalkan apa-apa yang mengarah pada kemaksiatan. Termasuk tidak terlalu kenyang ketika berbuka puasa, walaupun yang dimakan adalah makanan yang halal.
3.            صوم الخواص الخواص
Tingkatan puasa yang terakhir ini, puasanya para Anbiya dan Assiddiqin. Selain menahan rasa lapar, dahaga, menjaga anggota tubuh agar tidak mengarah pada hal-hal kemaksiatan, mereka juga di bulan Ramadhan yang suci ini senantiasa meningkatkan  تقرب/pendekatan diri kepada Allah SWT. Serta meninggalkan pemikiran-pemikiran yang bersifat duniawi    (  الأفكار الدنيوية ).
معاشر المسلمين رحمكم الله..............
Namun demikian, kita harus merasa bahagia atas kedatangan bulan suci Ramadhan, sekaligus dijadikannya kita semua sebagai umat Nabi Muhammad SAW. Sebab, di bulan suci Ramadhan Allah SWT senantiasa memberi keutamaan terhadap umat Nabi Muhammad SAW, yang tidak pernah diberikan kepada selain umat Nabi Muhammad SAW.
أُعْطِيَتْ أُمَّتِيْ خَمْسَةُ أَشْياَءَ لَمْ تُعْطَ لأَحَدٍ قَبْلَهُمْ
1.             Di awal bulan Ramadhan, Allah SWT memandang umat Muhammad SAW dengan rasa penuh kasih sayang. Sedang, barang siapa yang dilihat oleh Allah SWT dengan rasa kasih sayang/rahmat, niscaya ia akan dijauhkan dari siksa Allah.
يَنْظُرُ اللهُ اِلَيْهِمْ بِالرَّحْمَةِ، وَمَنْ نَظَرَ اللهُ اِلَيْهِ بِالرَّحْمَةِ لاَيُعَذِّبُهُ بَعْدَهُ اَبَدًا.
2.             Allah memerintahkan para malaikat untuk memintakan ampun pada Allah bagi orang-orang yang berpuasa.
يَأْمُرُ اللهُ تَعَالَى اْلمَلَائِكَةَ بِاْلإِسْتِغْفَارِ لَهُمْ.
3.                Bahwasanya disisi Allah, aroma mulut orang yang berpuasa itu lebih harum dari pada aroma minyak misik.
أَنَّ رَائِحَةَ فَمِّ الصَّائِمِ أَطْيَبُ عِنْدَ اللهِ مِنْ رِيْحِ اْلمِسْكِ،
4.                  Allah berkata pada surga. Wahai surge, ambilah perhiasanmu. (yakni orang-orang yang dikasihani Allah SWT)yang senantiasa berpuasa di bulan suci Ramadhan.
طُوْبَى لِعِباَدِي اْلمُؤْمِنِيْنَ هُمْ أَوْلِيَائِىْ.
5.                  Allah akan memberikan ampunan kepada mereka atas dosa-dosa yang telah diperbuat.
يَغْفِرُ اللهُ تَعَالَى لَهُمْ جَمِيْعًا.
معاشر المسلمين رحمكم الله..............
Demikian tadi keuntungan/keutamaan kita semua manakala kita selalu melaksanakan ibadah puasa dan memperbanyak amalan sholeh di bulan Ramadhan ini.





جعلنا الله وإياكم من الفائزين الأمنين. وادخلنا وإياكم فى زمرة الموحدين. أعوذ بالله من الشيطان الرجيم. شهر رمضان الذي أنزل فيه القران هدى للناس وبينات من الهدى والفرقان. وقل رب اغفر وارحم وانت خير الراحمين.